SBB- malukubarunews.com – Peristiwa penyerangan terhadap Pos Polisi Subsektor Laala serta pembakaran satu unit kedai milik anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate yang terjadi di Dusun Tanah Goyang, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, pada Sabtu, 30 Mei 2026, hingga kini masih dalam penanganan Polres Seram Bagian Barat (SBB).
Berdasarkan keterangan sejumlah warga dan laporan masyarakat, pada malam kejadian suasana di Dusun Tanah Goyang mendadak berubah mencekam setelah terdengar bunyi ketukan tiang listrik dari berbagai sudut perkampungan. Menurut sejumlah warga, bunyi tersebut membuat banyak warga berhamburan keluar rumah karena mengira telah terjadi keadaan darurat atau bencana besar.
Di sisi lain, beberapa warga mengaku melihat sebagian warga lainnya tetap berada dalam kondisi tenang. Tidak lama kemudian, menurut keterangan warga, mulai terdengar teriakan, ajakan, serta seruan yang berasal dari jalan raya. Warga menduga seruan tersebut berisi ajakan untuk berkumpul dan melakukan penyerangan terhadap Pos Polisi Subsektor Laala.
Menurut keterangan sejumlah warga, seruan tersebut diduga disampaikan oleh Kepala Dusun Tanah Goyang, Jusmin Papalia, yang disebut berteriak agar warga keluar rumah serta menyerang pos polisi. Keterangan tersebut perlu di dalami oleh aparat kepolisian.
Beberapa warga juga mengaku mendengar teriakan yang diduga berasal dari Fadli Bufakar. Menurut keterangan mereka, Fadli diduga mengangkat parang lalu menyeret parang tersebut di atas aspal sambil berteriak mengajak massa untuk menyerang Pos Polisi serta menyatakan bahwa dirinya akan bertanggung jawab.
Tidak lama kemudian, menurut sejumlah warga, Munir Bufakar diduga terlihat mondar-mandir di jalan raya sambil memegang parang dan berulang kali meneriakkan ajakan untuk menyerang pos polisi serta membakar bangunan di lokasi tersebut.
Sejumlah warga menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat tidak mengikuti ajakan tersebut dan memilih tetap tenang. Namun beberapa menit kemudian, menurut mereka, sekelompok massa mulai berkumpul di jalan raya. Pada saat itu, warga menduga Fadli Bufakar kembali berteriak mengajak massa maju menyerang Pos Polisi, kemudian berlari menuju lokasi dan diikuti oleh sejumlah orang lainnya.
Sesampainya di depan Pos Polisi Subsektor Laala, menurut keterangan warga, massa sempat berhenti sambil berteriak. Tidak lama kemudian, dua orang yang disebut warga sebagai Rizky Bufakar alias Atau dan Ikhsan Bufakar alias Cano diduga masuk ke halaman pos setelah merusak pagar. Menurut pengakuan warga, keduanya kemudian diduga masuk ke dalam bangunan pos, sementara sejumlah massa lainnya disebut melakukan dorongan, intimidasi, serta ancaman terhadap anggota kepolisian yang berusaha menghalangi mereka.
Beberapa warga menduga kedua orang tersebut kemudian melakukan pengrusakan terhadap sejumlah fasilitas kantor polisi sebelum akhirnya keluar. Setelah itu, menurut keterangan warga, keduanya kembali meneriakkan ajakan untuk membongkar dan membakar kedai milik anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate.
Karena sebagian massa disebut tidak berani melakukan tindakan tersebut, warga mengaku melihat keduanya diduga melempari bangunan kedai menggunakan batu secara berulang kali sambil terus meneriakkan ajakan, untuk membakar bangunan tersebut namun sangat disayangkan menurut warga seluruh insiden yang terjadi di depan kantor pos polisi maupun pelemparan terhadap bangunan kedai, Bripka Sardi yang adalah kepala Pemuda Dusun tanah goyang terpantau lebih memilih diam, yang bersangkutan terpantau tidak melakukan pencegahan, diduga yang bersangkutan turut membiarkan seluruh rangkaian peristiwa pada malam itu berlangsung tanpa ada pencegahan.
Akibat insiden tersebut, berdasarkan informasi yang beredar di tengah masyarakat, fasilitas Pos Polisi Subsektor Laala mengalami kerusakan, sementara satu unit kedai milik anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate hangus terbakar. Selain itu, sejumlah warga juga mengaku sempat mendengar dua kali suara ledakan keras pada malam kejadian sehingga situasi keamanan di wilayah sekitar menjadi semakin tegang.
Sejumlah warga menegaskan bahwa seluruh rangkaian peristiwa tersebut masih perlu didalami secara menyeluruh oleh penyidik Polres SBB agar seluruh fakta yang sebenarnya dapat terungkap sesuai alat bukti dan keterangan para saksi.
Menurut keterangan beberapa warga, setelah peristiwa tersebut terjadi, Fadli Bufakar diduga aktif menyuarakan kritik terhadap proses penanganan perkara yang dilakukan oleh Polres SBB. Sebagian warga menduga langkah tersebut merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian penyidik dari dugaan keterlibatan dirinya maupun pihak-pihak lain.
Warga juga menyebut bahwa Fadli Bufakar diduga kembali mengadakan aksi demonstrasi di depan Polres SBB yang telah dilaksanakan pada Senin, 22 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, aksi tersebut diperkirakan melibatkan sekitar 50 peserta aksi itupun sudah tergabung dengan warga masyarakat dari dusun Laala, menurut warga kalau masyarakat dari dusun tanah goyang yang terlibat pada aksi 22 Juli diperkirakan cuma sekitar 21 orang.
Menurut sebagian warga, aksi tersebut diduga merupakan bagian dari upaya mengalihkan perhatian publik terhadap penyelidikan perkara. Dugaan tersebut sepenuhnya perlu didalami oleh para penegak hukum.
Beberapa warga menyatakan siap memberikan keterangan kepada penyidik Polres SBB mengenai dugaan keterlibatan Fadli Bufakar, Munir Bufakar, Rizky Bufakar alias Atau, Ikhsan Bufakar alias Cano, serta nama-nama lain yang disebut dalam rangkaian peristiwa tersebut. Mereka berharap seluruh fakta dapat diungkap secara profesional, objektif, dan berdasarkan alat bukti yang sah.
Hingga berita ini disusun, seluruh rangkaian peristiwa masih dalam penanganan Polres Seram Bagian Barat.(MOZES)

