Ambon, gerbangmaluku.com Wakil Gubernur Maluku, H. Abdullah Vanath, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, TNI, investor, tokoh adat, dan masyarakat dalam mendukung keberlanjutan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela sebagai salah satu investasi strategis yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maluku.
Penegasan tersebut disampaikan Vanath saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada Seminar Komunikasi Sosial (Komsos) TNI bertajuk “Socio-Culture Net Again Memastikan Sustainabilitas Operasional Proyek Lapangan Abadi Masela”, yang berlangsung di Ballroom Raja Seafood, Ambon, Selasa (20/10/2026). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara luring dan daring.
Seminar ini mengusung tema “Dengan Komunikasi Sosial TNI, Kita Dukung Program Pemerintah dalam Mewujudkan Asta Cita Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”.
Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk membangun komunikasi yang efektif, memperkuat kepercayaan antarpemangku kepentingan, serta mendorong penerimaan masyarakat terhadap keberlanjutan investasi dan pembangunan di Provinsi Maluku.
Dalam sambutannya, Vanath menyampaikan apresiasi kepada TNI Angkatan Laut melalui Kodaeral IX Ambon atas inisiatif penyelenggaraan seminar tersebut. Menurutnya, komunikasi sosial memiliki peran penting dalam menyatukan persepsi dan membangun hubungan yang harmonis antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat.
Ia menegaskan, pembangunan tidak hanya membutuhkan dukungan anggaran, teknologi, dan infrastruktur, tetapi juga kepercayaan, komunikasi yang terbuka, serta partisipasi masyarakat.
Menurut Vanath, tanpa dukungan sosial yang kuat, pelaksanaan proyek pembangunan berpotensi menghadapi berbagai tantangan. Karena itu, seluruh pihak perlu membangun pemahaman bersama agar investasi yang masuk ke Maluku dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Vanath menjelaskan bahwa investasi memiliki peran strategis dalam memperkuat struktur perekonomian Maluku. Selama ini, aktivitas ekonomi daerah masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah, baik melalui belanja pegawai maupun pelaksanaan proyek yang bersumber dari APBN dan APBD.
Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan peningkatan investasi swasta agar sumber pertumbuhan ekonomi semakin beragam dan mampu menciptakan peluang usaha yang lebih luas.
“Pertumbuhan ekonomi Maluku selama ini masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah, baik melalui belanja pegawai maupun proyek APBN dan APBD. Karena itu, kita membutuhkan investasi swasta yang lebih besar agar aktivitas ekonomi semakin berkembang dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran investasi berskala besar, termasuk Proyek Lapangan Abadi Blok Masela, dapat membuka kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya usaha lokal, meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, serta memperkuat kontribusi sektor swasta terhadap pembangunan daerah.
Namun, Vanath menekankan bahwa keberhasilan investasi tidak semata-mata diukur dari besarnya modal yang ditanamkan. Lebih dari itu, investasi harus mampu menghadirkan manfaat ekonomi yang berkelanjutan dan dirasakan oleh masyarakat di wilayah terdampak maupun masyarakat Maluku secara luas.
Dalam kesempatan tersebut, Vanath mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam mengawal keberlanjutan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela.
Keterlibatan TNI, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi, serta masyarakat dinilai penting untuk membangun komunikasi yang konstruktif dan menjaga hubungan yang harmonis selama tahapan pembangunan hingga operasional proyek.
Menurutnya, aspek sosial dan budaya tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan proyek strategis di daerah. Setiap kebijakan dan aktivitas pembangunan perlu mempertimbangkan karakteristik masyarakat setempat, nilai-nilai adat, serta kondisi sosial yang berkembang di lingkungan sekitar.
Komunikasi yang terbuka juga diperlukan untuk menyerap aspirasi masyarakat, menjelaskan rencana pembangunan, serta mengantisipasi potensi kesalahpahaman yang dapat memengaruhi hubungan antara masyarakat dan pelaksana proyek.
Selain itu, stabilitas sosial dan kepastian dalam pelaksanaan pembangunan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor. Karena itu, seluruh pihak diharapkan mengambil peran sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing demi terciptanya iklim investasi yang kondusif di Maluku.
Di balik peluang ekonomi yang diharapkan hadir melalui Proyek Blok Masela, Vanath juga mengingatkan pentingnya memperhitungkan potensi dampak sosial dan lingkungan secara matang.
Menurutnya, upaya mitigasi harus dipersiapkan sejak tahap perencanaan, persiapan, hingga operasional proyek. Langkah tersebut diperlukan agar pelaksanaan pembangunan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta keberlanjutan kehidupan sosial dan budaya setempat.
Ia menilai, pembangunan yang baik bukan hanya berorientasi pada pencapaian target investasi, tetapi juga harus memastikan bahwa masyarakat memperoleh manfaat secara adil dan berkelanjutan.
Perhatian terhadap dampak jangka panjang juga menjadi hal penting, termasuk menyiapkan keberlanjutan ekonomi masyarakat apabila suatu saat kegiatan operasional perusahaan berakhir.
Dengan perencanaan yang matang, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan proyek, tetapi turut mengambil bagian melalui kesempatan kerja, pengembangan usaha, peningkatan keterampilan, dan berbagai peluang ekonomi lainnya.
Pendekatan tersebut sejalan dengan harapan agar investasi strategis di Maluku mampu memberikan nilai tambah bagi daerah, sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
Pemerintah Provinsi Maluku, lanjut Vanath, berkomitmen mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif melalui kolaborasi lintas sektor.
Dukungan tersebut dilakukan dengan tetap menempatkan kepentingan masyarakat, keberlanjutan pembangunan, peningkatan kesejahteraan, serta penghormatan terhadap kearifan lokal sebagai bagian penting dalam proses pembangunan.
Pemerintah daerah juga memandang komunikasi dan koordinasi antarpemangku kepentingan sebagai fondasi untuk memperkuat kepercayaan, mengidentifikasi tantangan sejak dini, dan mendorong penyelesaian persoalan secara konstruktif.
Melalui pendekatan kolaboratif, diharapkan berbagai potensi dan tantangan yang menyertai pelaksanaan proyek dapat dikelola secara baik sehingga manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
Seminar Komunikasi Sosial TNI tersebut turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Maluku, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku, para pejabat utama Kodaeral IX Ambon, serta anggota DPRD Provinsi Maluku.
Hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang mengikuti kegiatan secara daring, Penasihat Ahli Kepala SKK Migas Bidang Kemaritiman, Rektor UIN A.M. Sangadji, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan instansi vertikal, narasumber, akademisi, dan moderator.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam membangun pemahaman bersama mengenai keberlanjutan proyek strategis dan dampaknya terhadap pembangunan daerah.
Melalui seminar ini, diharapkan terbangun komitmen bersama untuk memperkuat komunikasi sosial, menjaga kepercayaan masyarakat, serta menciptakan lingkungan yang mendukung pelaksanaan investasi secara bertanggung jawab.
Keberlanjutan Proyek Lapangan Abadi Blok Masela diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Maluku, memperluas kesempatan kerja, mendorong perkembangan usaha masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.
Bagi Maluku, keberhasilan pembangunan bukan hanya tentang hadirnya investasi berskala besar, melainkan juga tentang bagaimana investasi tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dengan tetap menjaga nilai sosial, budaya, dan kelestarian lingkungan.(*)

