Ambon Maluku , malukubarunews.com — Kodim 1504/Ambon menggelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-98 Tahun 2026 di Markas Komando Distrik Militer (Makodim) 1504/Ambon, Rabu (28/10/2026). Peringatan tahun ini menyoroti pentingnya membangun generasi muda yang patriotik, gigih menghadapi tantangan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Dalam upacara tersebut, Dandim 1504/Ambon Letkol Inf Rudolf Gleend Paulus, S.I.P., bertindak sebagai inspektur upacara (Irup), sedangkan Kapten Inf Sudarsono bertugas sebagai komandan upacara (Danup).
Upacara diikuti Kasdim, para perwira staf, Bintara, Tamtama, serta pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Kodim 1504/Ambon.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga momentum untuk meneguhkan kembali semangat persatuan dan pengabdian kepada bangsa, sebagaimana diwariskan para pemuda melalui ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Dalam kesempatan tersebut, Letkol Inf Rudolf Gleend Paulus membacakan sambutan Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir, dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026.
Sambutan yang mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia” itu menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup diukur dari pembangunan fisik, kecanggihan teknologi, ataupun kekayaan material. Kemajuan sejati, menurut pesan dalam sambutan tersebut, berawal dari kualitas manusia, karakter, dan kepedulian sosial.
Dalam sambutannya, Menpora mengingatkan kembali makna historis Sumpah Pemuda sebagai ikrar yang menyatukan berbagai perbedaan dan memperkuat tekad untuk berdiri sebagai satu bangsa, yakni Indonesia.
Semangat tersebut, lanjut pesan sambutan itu, perlu terus diwujudkan dalam karakter generasi penerus, bukan sekadar dikenang sebagai bagian dari sejarah nasional.
Ada tiga nilai utama yang menjadi penekanan dalam tema peringatan tahun ini, yakni patriotisme, kegigihan, dan empati.
Patriotisme dimaknai sebagai kecintaan kepada Indonesia yang diwujudkan melalui pengabdian dan tindakan nyata, bukan berhenti pada ucapan. Sementara itu, kegigihan berarti tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, tidak terpuruk oleh kegagalan, serta terus berusaha memberikan yang terbaik bagi bangsa.
Adapun empati menuntut generasi muda untuk tidak hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memahami kesulitan orang lain dan bersedia memberikan pertolongan ketika masyarakat membutuhkan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa ketiga nilai itu perlu berjalan beriringan. Kecintaan terhadap tanah air harus disertai kepedulian, perjuangan harus tetap berlandaskan nurani, dan kemajuan harus tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Dalam bagian lain sambutannya, Erick Thohir mengajak generasi muda Indonesia untuk berani bermimpi, bekerja keras, dan tetap menjaga kepekaan sosial di tengah upaya meraih cita-cita.
Generasi muda diharapkan mampu menjadi pribadi yang kuat tanpa kehilangan kelembutan hati, berani mengambil peran kepemimpinan, sekaligus bersedia melayani dan membantu sesama.
Ilmu pengetahuan, karya, dan pengorbanan juga diharapkan menjadi bentuk nyata kecintaan terhadap Indonesia. Dengan demikian, kontribusi pemuda tidak hanya dinilai dari pencapaian individual, tetapi juga dari manfaat yang diberikan bagi masyarakat dan bangsa.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa masa depan Indonesia tidak terbentuk dengan sendirinya. Masa depan bangsa bergantung pada pilihan, karakter, dan tindakan yang dilakukan bersama sejak sekarang.
“Patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam kemanusiaan,” menjadi pesan utama yang mengiringi peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026.
Melalui upacara di Makodim 1504/Ambon, nilai-nilai Sumpah Pemuda kembali ditegaskan sebagai landasan untuk memperkuat persatuan, menumbuhkan semangat pengabdian, serta membangun kepedulian terhadap sesama.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa semangat pemuda tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan seremoni, tetapi perlu tercermin dalam sikap, tanggung jawab, serta kontribusi nyata bagi Indonesia.(*)

