Piru.Malukubarunews.com – Seorang ibu hamil asal Desa Ahiolo, Kecamatan Elpaputih, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), terpaksa ditandu oleh warga menuju jalan utama akibat tidak tersedianya akses jalan yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 04.00 WIT itu kembali memperlihatkan keterisolasian desa serta minimnya akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah pegunungan.
Ibu hamil bernama Marici Haikutty (40) yang diperkirakan telah memasuki masa persalinan harus dievakuasi secara gotong royong oleh puluhan warga. Setelah ditandu melewati jalur setapak yang sulit, ia kemudian diseberangkan menggunakan rakit bambu di Kali Tala sebelum akhirnya dibawa menuju jalan utama agar dapat dijemput kendaraan menuju Puskesmas Elpaputih untuk mendapatkan penanganan medis.
Kondisi tersebut bukan merupakan kejadian pertama. Warga menyebut proses evakuasi pasien dengan cara ditandu dan menggunakan rakit telah berlangsung selama bertahun-tahun karena hingga kini belum tersedia akses jalan yang layak menuju Desa Ahiolo. Akibatnya, setiap keadaan darurat, terutama bagi ibu hamil maupun pasien yang membutuhkan rujukan medis, harus mengandalkan tenaga masyarakat secara bergantian.
“Setiap ada warga yang sakit atau ibu hamil hendak melahirkan, kami harus bergotong royong menandu mereka keluar desa. Kami berharap pemerintah segera membangun jalan agar mobil bisa langsung masuk ke Desa Ahiolo,” jelas salah seorang perwakilan warga.
Selain persoalan infrastruktur, masyarakat juga mengeluhkan minimnya pelayanan kesehatan di desa tersebut. Hingga kini belum tersedia tenaga kesehatan yang menetap maupun fasilitas pelayanan dasar yang mampu memberikan penanganan awal bagi warga ketika terjadi kondisi darurat.
“Kalau ada tenaga kesehatan yang bertugas di desa, setidaknya pasien bisa mendapat penanganan pertama sebelum dirujuk. Kondisi seperti ini sangat menyulitkan masyarakat,” ujar perwakilan warga.
Secara geografis, Desa Ahiolo berada di kawasan pegunungan Kecamatan Elpaputih sehingga akses transportasi masih sangat terbatas. Rakit bambu yang digunakan warga untuk menyeberangi sungai masih menjadi salah satu sarana transportasi utama ketika kondisi darurat terjadi, termasuk untuk membawa pasien menuju fasilitas kesehatan.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat dapat menjadikan pembangunan akses jalan menuju Desa Ahiolo sebagai prioritas pembangunan daerah. Infrastruktur yang memadai dinilai akan mempercepat mobilitas masyarakat, mempermudah distribusi kebutuhan pokok, sekaligus mempercepat proses evakuasi pasien menuju fasilitas kesehatan.
Selain pembangunan jalan, masyarakat juga meminta Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Barat segera menempatkan tenaga kesehatan di Desa Ahiolo serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan dasar melalui polindes atau fasilitas kesehatan desa. Kehadiran tenaga medis dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi risiko keterlambatan penanganan pasien, khususnya ibu hamil, bayi, dan warga yang mengalami kondisi gawat darurat.
Peristiwa yang dialami Marici Haikutty menjadi potret nyata masih adanya kesenjangan pembangunan di wilayah terpencil Kabupaten Seram Bagian Barat. Warga berharap kejadian serupa tidak terus berulang dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah melalui percepatan pembangunan infrastruktur serta pemerataan layanan kesehatan bagi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.(Mozes)

