Ambon.malukubarunews.com — Perayaan satu abad Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Galala-Hative Kecil atau Gatik bukan sekadar penanda perjalanan waktu. Momentum 100 tahun tersebut menjadi refleksi atas sejarah penyatuan dua negeri, sekaligus penegasan pentingnya persatuan, persaudaraan, dan keteguhan iman dalam menghadapi perbedaan.
Puncak perayaan berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, di Gereja Imanuel Galala-Hative Kecil. Momentum tersebut bertepatan dengan 100 tahun penyatuan Galala dan Hative Kecil menjadi satu jemaat pada 2 September 1926. Rangkaian perayaan telah dimulai sejak 30 Agustus dengan penyambutan anak cucu Galala-Hative Kecil dari tanah rantau dan dijadwalkan berlanjut hingga 4 September 2026.
Dalam sambutannya, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menempatkan sejarah satu abad Jemaat Gatik dalam konteks yang lebih luas. Menurutnya, penyatuan tersebut tidak lahir dari ketiadaan perbedaan, tetapi justru merupakan hasil dari kemampuan para pendahulu untuk menerima perbedaan dan menempatkan persaudaraan di atas kepentingan kelompok.
“Persatuan yang sejati adalah ketika kita memiliki perbedaan tetapi memilih untuk tidak menjadikannya sebagai alasan untuk berpisah,”ungkapnya
Lewerissa menilai keputusan para pendahulu untuk menyatukan diri merupakan warisan penting bagi generasi sekarang. Menurut dia, para pendahulu telah menunjukkan keteladanan melalui kesediaan membuka hati, saling menerima, mengalahkan ego, dan mencari kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan kelompok.
“Warisan terbesar yang ditinggalkan oleh para pendahulu kita adalah mereka belajar untuk membuka hati, saling menerima, mengalahkan ego, serta belajar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada kepentingan kelompok dan persaudaraan,” ujarnya.
Ia menggambarkan perjalanan satu abad Jemaat Gatik seperti sebuah tenunan. Setiap perbedaan diibaratkan sebagai benang yang memiliki warna dan karakter tersendiri. Namun, ketika dirajut dengan kesabaran dan ketekunan, perbedaan itu justru membentuk sebuah kesatuan yang lebih besar dan bernilai.
“Seratus tahun adalah seratus tahun merajut persaudaraan. Benang yang satu akan berbeda dengan benang yang lain, tetapi ketika dirajut dengan tekun, satu demi satu akhirnya terbentuk sebuah tenunan yang sangat indah,” tutur Lewerissa.
Bagi Gubernur, pesan sejarah tersebut relevan dengan tantangan pembangunan Maluku saat ini. Pembangunan, kata dia, tidak dapat berhenti pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusia, kepercayaan, persaudaraan, dan kebersamaan. Dalam kerangka itu, gereja dinilai memiliki posisi strategis sebagai kekuatan sosial dan moral di tengah masyarakat.
“Pemerintah membangun dengan program dan kebijakan, gereja membangun dengan iman, masyarakat membangun dengan persaudaraan dan kebersamaan, dan semuanya harus bertemu dalam satu tujuan mewujudkan Maluku yang maju, adil dan sejahtera,” tegasnya.
Sejarah Jemaat Gatik sendiri menunjukkan bahwa perjalanan satu abad bukan tanpa tantangan. Panitia perayaan mencatat jemaat telah melewati berbagai peristiwa besar, antara lain banjir Galala pada 1950, konflik sosial 1999, gempa bumi, serta berbagai pergumulan lainnya. Kendati demikian, persekutuan jemaat tetap bertahan hingga mencapai usia 100 tahun.
Perayaan satu abad itu juga menjadi momentum mempertemukan kembali anak cucu Galala dan Hative Kecil yang kini tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa ikatan sejarah dan persaudaraan tidak terputus oleh jarak. Rangkaian kegiatan juga melibatkan negeri-negeri yang memiliki hubungan pela, gandong, dan persaudaraan dengan Galala maupun Hative Kecil.
Menutup sambutannya, Lewerissa mengingatkan bahwa generasi sekarang bukan hanya bertugas mempertahankan warisan para pendahulu, tetapi juga memastikan warisan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih baik. Persatuan yang telah dirajut selama satu abad, menurutnya, tidak boleh dirusak oleh kepentingan maupun perbedaan.
“Tugas kita bukan hanya menjaga warisan itu, tetapi membuatnya menjadi semakin indah. Jangan dirusak karena kepentingan ataupun perbedaan. Sebaliknya, mari kita lanjutkan dengan cinta, perdamaian dan persaudaraan,” pungkasnya.
Pesan tersebut menempatkan perayaan satu abad Jemaat Gatik bukan semata sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai titik tolak memasuki abad berikutnya. Bagi Maluku, pengalaman Galala-Hative Kecil menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu menjadi sumber perpecahan. Jika dikelola melalui iman, kesabaran, dan persaudaraan, perbedaan justru dapat menjadi fondasi bagi kekuatan bersama.(MB-01)

