Ambon.malukubarunews.com – Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena menegaskan bahwa peringatan 1 Abad Jemaat Galala-Hative Kecil (Gatik) bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum penting untuk kembali mengingat sejarah, mensyukuri penyertaan Tuhan, serta menghidupkan nilai-nilai adat, budaya, dan sejarah di Kota Ambon.
Hal itu disampaikan Bodewin dalam sambutannya saat menghadiri Ibadah Syukur dan Perayaan 1 Abad Jemaat Galala-Hative Kecil di Gereja Imanuel Gatik Rabu, (2/9).
Menurut Bodewin, perjalanan satu abad sebuah jemaat tidak selalu berlangsung tanpa tantangan. Berbagai persoalan yang dilewati selama 100 tahun justru menjadi bagian penting dari sejarah yang harus dimaknai dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Momentum tertentu, 10 tahun, 1 abad dan seterusnya, tidak saja mengingatkan tentang sejarah terbentuknya, tetapi mengajarkan kepada kita semua untuk melihat bagaimana penyertaan Tuhan selama satu abad bagi jemaat,” ujarnya
Ia mengatakan, perjalanan Jemaat Gatik hingga mencapai usia satu abad merupakan bukti bahwa berbagai dinamika dan persoalan yang dihadapi tidak menghilangkan penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat.
“Tidak lurus-lurus saja, tidak langsung berjalan dengan aman-aman saja, tetapi ada banyak persoalan yang turut serta dalam perjalanan jemaat ini selama satu abad,” ujarnya.
Karena itu, menurut Bodewin, peringatan satu abad harus dimaknai sebagai momentum untuk terus bersyukur atas penyertaan Tuhan yang memungkinkan jemaat bertahan dan berkembang hingga mencapai usia 100 tahun.
“Pemaknaan terhadap penyertaan Tuhan itulah yang membuat kita semua akan terus bersyukur bahwa Tuhan itu selalu membuat hal-hal baik dalam kehidupan, termasuk kehidupan jemaat, sehingga bisa tiba di usia satu abad,” tuturnya
Lebih jauh, Bodewin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Ambon saat ini terus mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai adat istiadat, budaya, dan sejarah di Kota Ambon. Langkah tersebut dinilai penting agar generasi muda memahami proses sejarah yang membentuk kehidupan masyarakat Ambon hingga saat ini.
Ia menilai peringatan usia komunitas, jemaat, negeri, maupun desa memiliki nilai strategis dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat. Melalui momentum tersebut, generasi penerus dapat mengetahui bagaimana sebuah persekutuan terbentuk, bagaimana masyarakat menghadapi berbagai persoalan, serta bagaimana hubungan persaudaraan dipelihara lintas generasi.
“Pemerintah kota hari ini sementara terus mendorong kita untuk kembali menghidupkan nilai-nilai adat istiadat, budaya, sejarah di kota ini,” tegasnya.
Bodewin juga menegaskan dukungan Pemerintah Kota Ambon terhadap berbagai upaya yang bertujuan menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya serta adat istiadat di Kota Ambon. Menurutnya, warisan tersebut harus terus dirawat agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap hidup dan dipahami oleh generasi-generasi berikutnya.
“Pemerintah kota akan mendukung semua hal yang terkait dengan upaya untuk terus menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya, adat istiadat di kota ini,” tegasnya tutup (MB-01)

