Ambon.malukubarunews.com — Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena mendorong agar seluruh sekolah di Kota Ambon mulai menerapkan kurikulum musik sebagai bagian dari upaya serius pemerintah mengembangkan bakat dan talenta generasi muda. Dorongan itu disampaikan usai membuka Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon di Pattimura Park, Senin, 31 Agustus 2026, sekitar pukul 10.00 WIT.
Langkah tersebut tidak berhenti pada kegiatan perlombaan. Pemerintah Kota Ambon saat ini telah menunjuk 10 sekolah sebagai bagian dari program pengembangan pembelajaran musik, terdiri atas lima sekolah dasar (SD) dan lima sekolah menengah pertama (SMP). Sekolah-sekolah tersebut telah menjalankan pembelajaran musik dan membentuk kelompok musik sebagai ruang praktik bagi peserta didik.
Menurut Wattimena, program itu menunjukkan perkembangan yang positif. Para siswa tidak hanya diperkenalkan pada satu jenis alat musik, tetapi diarahkan untuk mampu memadukan musik tradisional dengan alat musik modern, termasuk unsur perkusi. Konsep tersebut dinilai dapat membangun kreativitas sekaligus memperkenalkan kekayaan musik kepada generasi muda sejak bangku sekolah.
“Di sekolah-sekolah tersebut terbentuk grup musik yang menciptakan harmoni, berpadu antara musik tradisional dan alat musik modern. Itu semua digabung jadi satu, termasuk perkusi dan lain-lain,” ungkap Wali Kota Ambon
Kelompok musik yang terbentuk dari sekolah-sekolah tersebut juga diproyeksikan tampil dalam berbagai agenda pemerintah dan kegiatan musik di Kota Ambon. Wattimena menyebut penampilan para siswa akan kembali diarahkan untuk mengisi rangkaian perayaan Ambon City of Music pada 31 Oktober mendatang.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, keberadaan program musik di sekolah memiliki arti lebih besar daripada sekadar aktivitas ekstrakurikuler. Musik dipandang sebagai salah satu instrumen untuk menemukan dan mengembangkan talenta anak sejak usia dini. Kemampuan siswa memainkan alat musik dan mengiringi penyanyi dinilai dapat menjadi fondasi bagi lahirnya generasi musisi baru.
“Saya ingin supaya ini berimbas ke seluruh sekolah. Kenapa ini penting? Kita bicara soal pengembangan talenta dan bakat. Itu mesti dimulai dari menyiapkan generasi muda,” tegas Wattimena.
Ia menilai kemampuan bermusik perlu dibangun melalui proses pendidikan yang terarah dan berkelanjutan. Ketika siswa SD dan SMP telah memiliki kemampuan memainkan alat musik, menurutnya, peluang untuk mengembangkan kemampuan tersebut hingga menjadi profesi atau prestasi di tingkat yang lebih tinggi akan semakin terbuka.
“Bayangkan saja, di usia SD dan SMP mereka sudah bisa bermain musik. Inilah peluang kita untuk tercipta musisi-musisi hebat di kemudian hari,” ujarnya.
Karena itu, Pemerintah Kota Ambon ingin agar pola pembelajaran musik yang telah diterapkan di 10 sekolah tersebut tidak berhenti sebagai program terbatas. Pemerintah mendorong agar pengalaman dari lima SD dan lima SMP itu dapat menjadi model yang kemudian diperluas ke sekolah-sekolah lainnya di Kota Ambon.
“Saya ingin supaya seluruh sekolah-sekolah di Kota Ambon ini memiliki kurikulum musik,” pinta Wattimena.
Dorongan tersebut menempatkan sekolah sebagai salah satu fondasi penting dalam penguatan identitas Ambon sebagai kota musik. Dengan memasukkan musik ke dalam proses pendidikan, pemerintah berharap pengembangan talenta tidak dilakukan secara sporadis, melainkan dimulai sejak dini, dilakukan secara konsisten, dan memiliki ruang tampil yang jelas. Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon menjadi salah satu momentum untuk memperlihatkan bahwa pembinaan musik berbasis sekolah dapat menjadi bagian dari pembangunan sumber daya manusia di Kota Ambon. (MB-01)

