Ambon,malukubarunews.com – Suara tifa bergema di Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Selasa (15/9/2026). Itu tanda resmi dimulainya diskusi publik “Katong Peduli Ambon Manise Bebas Macet”—ruang terbuka yang digelar Kantor Distrik Navigasi Maluku menjelang Hari Perhubungan Nasional ke-55. Sekretaris Kota Ambon Robby Sapulette memimpin langsung pembukaan forum yang mengundang seluruh elemen warga untuk berbagi gagasan.
Membawakan pesan Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena, Sapulette menyampaikan: kemacetan yang kini sering dirasakan warga di sejumlah jalan kota adalah tanda tumbuhnya Ambon, namun tak boleh dibiarkan menghambat langkah kita bersama.
“Ambon adalah jantung Maluku: tempat kita bekerja, bersekolah, berniaga, dan berkumpul. Seiring makin padatnya aktivitas, kebutuhan bergerak pun makin besar. Tapi ingat: masalah ini bukan beban Pemkot saja, bukan pula tugas polisi semata. Ini urusan katong samua,” ujarnya dengan nada mengajak.
Lewat semangat “Bacarita, Bakudapa, Bakumpul Gagasan”, forum ini membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja untuk menyampaikan keluhan, pandangan, dan harapan—mulai dari akar masalah di lapangan, pengaruh kebiasaan warga, hingga solusi yang cocok dengan kondisi kota kita.
“Tujuan kita sederhana: agar nanti berangkat kerja atau pulang sekolah tak lagi terjebak lama di jalan, agar angkutan umum lebih nyaman dan teratur, agar Ambon tetap kota yang menyenangkan untuk ditinggali,” tambah pesan Wali Kota.
Kepala Kantor Distrik Navigasi Maluku Jece J. Piris juga menekankan pentingnya bertukar pikiran: “Kita sudah tahu kemacetan ada di mana, kita pun tahu kapan biasanya terjadi. Tapi solusi yang pas hanya akan lahir kalau kita dengar suara semua pihak—dari pakar, penegak aturan, sampai warga yang setiap hari melintasi jalan itu.”
Tiga hal utama yang dibahas dalam forum ini adalah gambaran nyata lalu lintas Ambon saat ini, faktor kebiasaan dan pandangan warga, serta langkah teknis penanganan yang bisa dijalankan. Hadir sebagai narasumber Dirlantas Polda Maluku, pakar dari Universitas Pattimura dan UKIM, serta diikuti anggota DPRD, pengusaha, komunitas, dan perwakilan organisasi angkutan.
Acara berakhir dengan harapan satu: gagasan yang dikumpulkan hari ini tak hanya berhenti di atas kertas, tapi menjadi awal perubahan nyata demi Ambon Manise yang lebih lancar dan tertib.(MB-01)

