Ambon.Malukubarunews.com — Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, menjadikan sejarah perjuangan para pahlawan Maluku sebagai sumber kekuatan untuk membangun masa depan. Menurutnya, kebanggaan terhadap sejarah tidak boleh berhenti pada nostalgia, tetapi harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kota, daerah, dan bangsa.
Pesan itu disampaikan Bodewin saat membuka Dialog Kebangsaan bertajuk “Bacarita Kota Ambon voor Ambon pung bae” di Hotel Santika Ambon, Selasa (11/8/2026). Dialog tersebut berlangsung dalam momentum Kota Ambon memasuki usia ke-450 tahun.
Bodewin mengatakan, masyarakat Ambon patut bangga dengan sejarah panjang daerahnya dan kontribusi para pahlawan Maluku terhadap perjuangan bangsa Indonesia. Nama Kapitan Pattimura dan Martha Christina Tiahahu, menurutnya, tidak boleh sekadar menjadi bagian dari catatan sejarah, tetapi harus menjadi spirit bagi generasi hari ini.
“Kita bangga sebagai warga kota. Kita punya banyak pahlawan yang menunjukkan bahwa kita berkontribusi bagi bangsa dan negara. Ini bukan saja menjadi sesuatu yang membanggakan, tetapi harus menjadi spirit bagi kita untuk terus berjuang,” ujarnya
Menurut Bodewin, usia 450 tahun Kota Ambon merupakan perjalanan panjang yang diisi berbagai peristiwa sejarah. Namun, sejarah masa lalu tidak boleh membuat masyarakat terlena. Kebanggaan terhadap masa lalu harus menjadi energi untuk memastikan Ambon mampu menjadi kota yang lebih baik pada masa kini dan masa mendatang.
“Sejarah yang baik memotivasi kita untuk menjadi pelaku-pelaku sejarah di hari ini,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa bentuk perjuangan generasi sekarang berbeda dengan perjuangan para pahlawan melawan kolonialisme. Jika dahulu perjuangan dilakukan dengan senjata dan bambu runcing, maka generasi saat ini memiliki medan perjuangan masing-masing sesuai profesi, kapasitas, dan tanggung jawab sosialnya.
Bodewin juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh provokasi, terutama melalui media sosial. Menurut dia, informasi yang tidak benar dan narasi yang memecah belah dapat mengganggu persatuan serta menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Karena itu, masyarakat diminta memiliki ketahanan sosial dan kecerdasan dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar. Bodewin menilai masyarakat tidak perlu memberikan ruang berlebihan kepada segelintir pihak yang berusaha menciptakan kegaduhan atau membangun narasi negatif tentang Ambon dan Maluku.
“Jangan menjadi beban dalam setiap kerukunan kita sehari-hari. Kalau keberagaman terpelihara dengan baik, tetapi ada seorang yang membuat status dan membuat orang berpikir rusak, itu menjadi beban,” ujarnya.
Bodewin juga mengingatkan bahwa tugas membangun kota bukan hanya berada di tangan pemerintah. Seluruh elemen masyarakat, termasuk pemuda, memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari perubahan. Kritik terhadap pemerintah, menurutnya, tetap diperlukan, tetapi harus disampaikan dengan cara yang baik, benar, dan bertanggung jawab.
Ia selanjutnya mengajak masyarakat memikirkan warisan yang akan ditinggalkan kepada anak cucu. Menjaga persaudaraan, merawat lingkungan, mempertahankan persatuan, serta membangun kehidupan sosial yang sehat dinilai sebagai bagian dari tanggung jawab generasi sekarang terhadap generasi mendatang.
“Pastikan lingkungan yang kita nikmati hari ini juga bisa dinikmati oleh generasi kita dalam segala aspek,” pesan Bodewin.
Momentum 450 tahun Kota Ambon,
lanjutnya, harus menjadi kesempatan untuk memperkuat identitas sekaligus memperbarui komitmen membangun kota. Sejarah harus menjadi pijakan, bukan tempat untuk berhenti. Generasi hari ini ditantang meninggalkan catatan sejarah yang baik melalui kerja nyata, persaudaraan, toleransi, dan kontribusi sesuai bidang masing-masing.
Bodewin berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipelihara di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial. Ia menegaskan, Ambon yang kuat bukan hanya dibangun melalui kebijakan pemerintah, tetapi melalui kesadaran seluruh warga untuk menjaga kota sebagai ruang hidup bersama.
Dengan semangat tersebut, Dialog Kebangsaan “Bacarita Kota Ambon voor Ambon pung bae” tidak sekadar menjadi ruang berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga momentum untuk menentukan bagaimana generasi sekarang menulis sejarah Ambon berikutnya—sejarah tentang kota yang mampu menjaga persaudaraan, menghadapi tantangan zaman, dan mewariskan kehidupan yang lebih baik kepada anak cucu.( MB-01)

