Ambon.malukubarunews com — Polemik yang sempat ramai di media sosial menyusul insiden antara Pengawal Pribadi ( Wapri ) Gubernur Maluku dengan seorang oknum mahasiswa pada 17 Agustus 2026 mulai diarahkan menuju proses rekonsiliasi.
Raja Negeri Manusela sekaligus Wakil Ketua Latupati Seram Utara, Marxion Eyale, bersama delapan raja lainnya yang mewakili 13 negeri penyangga kawasan Manusela, Seram Utara, mengambil langkah untuk meredakan ketegangan.
Langkah tersebut dilakukan setelah para raja bertemu Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa di kediamannya di kawasan Mangga Dua, Ambon, Jumat (28/8/2026) malam. Dalam pertemuan itu, para raja menyampaikan permohonan maaf sekaligus memberikan maaf terkait peristiwa yang sebelumnya berkembang menjadi berbagai opini di ruang publik dan media sosial.
Pertemuan tersebut bukan semata-mata menjadi forum penyampaian permohonan maaf, tetapi juga menjadi upaya membangun kembali komunikasi antara unsur pemerintah daerah, masyarakat adat, dan kalangan mahasiswa. Para raja juga disebut telah berkomunikasi dengan sejumlah mahasiswa yang berada di Ambon untuk membuka ruang hubungan yang lebih baik.
Marxion Eyale mengatakan pihaknya masih berupaya membuka ruang dialog langsung antara pihak yang terlibat dalam insiden dengan Wakil Gubernur maupun Gubernur Maluku. Menurut dia, penyelesaian persoalan harus ditempuh melalui komunikasi dan semangat saling memaafkan.
“Kita sementara berupaya untuk orang yang membawa itu untuk nanti berdialog khusus dengan Pak Aspri, Pak Gubernur. Mudah-mudahan bisa diterima dengan baik. Kedua belah pihak bisa saling memaafkan, karena tidak ada sesuatu yang tidak mungkin untuk bisa dimaafkan,” tutur Raja Negeri Manusela sekaligus Wakil Ketua Latupati Seram Utara usai pertemuan
Upaya tersebut mendapat respons positif dari Serka La Rahimu, yang turut menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang menjadi sorotan. Kepada media ini melalui sambungan telepon seluler, Sabtu (29/8/2026) malam, La Rahimu mengapresiasi sikap para raja dari Manusela yang memilih jalur klarifikasi dan rekonsiliasi.
“Saya terharu karena sembilan raja yang mewakili 13 Raja di Manusela, Seram Utara, telah memberikan klarifikasi sekaligus menyampaikan permohonan maaf kepada saya karena saya tidak ada maksud negatif terhadap adik-adik mahasiswa itu. Saya tulus dalam melakukan tugas,” ungkapnya
La Rahimu menegaskan, keberadaannya dalam rangkaian peristiwa tersebut berkaitan dengan tugas pengamanan sebagai pengawal pribadi gubernur. Ia menyatakan tidak memiliki maksud negatif terhadap mahasiswa dan menempatkan tindakannya dalam konteks pelaksanaan tanggung jawab pengamanan.
“Saya hanya menjalankan tugas sebagai pengawal pribadi gubernur semata-mata untuk melaksanakan tanggung jawab pengamanan. Terima kasih banyak kepada para raja dari Manusela,” tegasnya
Suasana pertemuan antara para raja dan Gubernur Maluku juga memperlihatkan nuansa yang mencair. Keakraban terlihat ketika para raja bersama Serka La Rahimu berfoto bersama seusai kegiatan di kediaman Gubernur Maluku. Momen tersebut menjadi simbol bahwa komunikasi dan ruang dialog masih terbuka setelah polemik yang sebelumnya berkembang luas di media sosial.
Bagi para pemangku adat di kawasan Manusela, penyelesaian persoalan melalui dialog dinilai penting untuk mencegah perbedaan persepsi berkembang menjadi konflik yang lebih luas. Para raja juga menyatakan dukungan terhadap program-program Pemerintah Provinsi Maluku, sembari mendorong hubungan yang baik dengan mahasiswa sebagai bagian dari elemen masyarakat Maluku.
Langkah rekonsiliasi ini sekaligus menunjukkan bahwa persoalan yang telah menjadi konsumsi publik tidak harus berakhir pada pembelahan. Dengan keterlibatan tokoh adat, pemerintah daerah, aparat pengamanan, dan mahasiswa, penyelesaian melalui komunikasi terbuka diharapkan dapat mengakhiri polemik serta mengembalikan hubungan antarpihak dalam suasana yang lebih kondusif.(MB-01)

