Ambon.malukubarunews.com — Tokoh masyarakat Maluku, Rauf Pelu, meminta semua pihak menyikapi polemik yang melibatkan R.I Laraimu secara bijaksana. Menurut Pelu, Laraimu telah menyampaikan permintaan maaf dan pernyataan tersebut patut diterima sebagai upaya menyelesaikan persoalan secara damai.
Pernyataan itu disampaikan Rauf Pelu dalam konferensi pers di Ambon, Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menilai pernyataan Laraimu dalam insiden tersebut muncul dalam situasi emosional karena yang bersangkutan sedang menjalankan tugas pengamanan terhadap Gubernur Maluku.
“Maafkan beliau. Apa yang beliau sampaikan itu karena kesal dan beliau menjalankan tugas,”ungkap tokoh masyarakat Maluku.
Pelu mengatakan, dirinya memahami posisi Laraimu sebagai personel yang bertugas mengamankan pejabat negara. Ia bahkan mengaku memiliki latar belakang keluarga militer sehingga memahami bahwa tugas pengamanan menuntut kewaspadaan terhadap berbagai kemungkinan yang dapat membahayakan pejabat yang dikawal.
“Saya juga sebagai anak tentara, Papa saya tentara. Jadi menjalankan tugas, siswa mengamankan pejabat, dalam hal ini Pak Gubernur, kita tidak tahu di dalam bambu itu apa,” ujarnya.
Menurut Pelu, kekhawatiran terhadap benda yang dibawa seseorang dalam situasi pengamanan merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. Ia mencontohkan kemungkinan terburuk apabila benda tersebut ternyata mengandung sesuatu yang dapat membahayakan keselamatan Gubernur Maluku.
“Kalau ada bom atau ada apa yang bisa mencelakakan Pak Gubernur, beliau ini di penjara. Jadi beliau menjalankan tugas sebagai pengawal pribadi pengguna dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kepada Pak Gubernur sebagai kepala daerah dan kepala pemerintahan,” tegasnya
Pelu juga menilai Laraimu bukan sosok yang selama ini menutup akses masyarakat untuk bertemu Gubernur. Sebaliknya, ia mengaku mengenal Laraimu secara baik dan mengetahui bahwa yang bersangkutan kerap membantu memfasilitasi masyarakat maupun pihak tertentu yang hendak bertemu dengan Gubernur Maluku.
“Beliau ini kan saya kenal baik. Jadi teman-teman yang ketemu itu, beliau sering fasilitasi untuk ketemu dengan Pak Gubernur,” ujarnya
Karena itu, Pelu meminta persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik baru. Ia menilai permintaan maaf yang telah disampaikan Laraimu harus menjadi momentum untuk menghentikan polemik dan membuka ruang saling memaafkan antara semua pihak yang terlibat.
“Marilah kita sama-sama dan maafkan satu sama lain sebagai manusia biasa. Kita kan bukan malaikat, sama dia juga bukan malaikat. Manusia biasa sama dengan faktor sosial,” pintahnya
Pelu menegaskan bahwa setiap manusia dapat melakukan kekeliruan, terlebih dalam situasi yang penuh tekanan. Menurutnya, posisi Laraimu sebagai pengawal pribadi Gubernur harus dilihat secara utuh dalam konteks tugas negara, bukan hanya dari ucapan yang kemudian menimbulkan polemik.
“Beliau sudah minta maaf dan posisi beliau sebagai pengawal pribadi gubernur yang menjalankan tugas negara untuk mengamankan kepala daerah,” tegasnya
Ia berharap semua pihak, termasuk masyarakat dan mahasiswa, dapat menerima permintaan maaf tersebut dan tidak memperpanjang persoalan. Bagi Pelu, menjaga situasi tetap kondusif di Maluku jauh lebih penting daripada mempertajam perbedaan akibat insiden yang terjadi di lapangan.
Pernyataan Rauf Pelu sekaligus menjadi seruan agar polemik tersebut ditempatkan secara proporsional. Ia mengajak seluruh pihak mengedepankan sikap saling menghormati, memahami tugas masing-masing, serta menyelesaikan setiap persoalan melalui komunikasi tanpa memperlebar konflik.(MB-01)

