Ambon.Malukubarunews.com — Video yang memperlihatkan seorang ajudan Gubernur Maluku melontarkan ucapan “monyet” kepada seorang oknum mahasiswa viral di media sosial setelah pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Merdeka Ambon, Senin, 17 Agustus 2026. Video yang beredar berdurasi sekitar 46 detik dan memicu perhatian publik karena terjadi di tengah pengamanan Gubernur Maluku saat meninggalkan tribun.
Kronologi yang dihimpun media ini menunjukkan peristiwa bermula ketika Gubernur Maluku hendak menuruni tangga tribun setelah rangkaian kegiatan. Saat itu, area di sekitar tribun dipadati tamu, masyarakat, dan wartawan. Sejumlah ajudan yang bertugas melakukan pengamanan terlihat membuka jalur agar pergerakan Gubernur tetap aman di tengah kepadatan massa.
Situasi kemudian berubah ketika sekelompok orang bergerak mendekati Gubernur. Kelompok tersebut disebut membawa selebaran serta benda menyerupai bambu. Dari sudut pandang petugas pengamanan, benda yang belum diketahui isinya tersebut dinilai perlu diperiksa, terlebih pergerakan kelompok itu berlangsung ketika Gubernur berada di tengah kerumunan dan proses wawancara masih berlangsung.
Ajudan Gubernur Maluku,RI mengatakan dirinya bersama petugas lain berupaya memastikan identitas dan maksud kelompok tersebut sebelum mereka mendekati Gubernur. Menurut dia, petugas juga meminta agar benda yang menyerupai bambu diperlihatkan serta menanyakan asal dan keperluan kelompok tersebut.
“Di saat wawancara tersebut, beta (saya) melihat sekitar beberapa orang mendekat cepat ke arah Gubernur. Salah satu dari mereka membawa benda menyerupai bambu dan ada pula yang membawa sejenis spanduk, karton manila,” ujar RI
RI menjelaskan, berdasarkan informasi yang kemudian diterimanya, benda menyerupai bambu tersebut disebut berkaitan dengan surat dari Tua Adat Negeri Manusela. Namun, ia menegaskan bahwa pada saat kejadian petugas tidak mengetahui isi maupun tujuan benda tersebut. Karena itu, pemeriksaan dan pengendalian pergerakan massa disebut menjadi bagian dari prosedur pengamanan Gubernur.
“Bapak turun dari tribun itu orang banyak. Katong (kami) pisah-pisahkan, ada wartawan wawancara, dong (mereka) tiba muncul dengan bawa beberapa selebaran yang dalam karton manila bertulisan apa sambil bawa bambu. Katong (kami) curiga bambu itu apa isi dalam bambu itu, katong minta, dia seng (tidak) mau,” jelasnya
Menurut RI , petugas bukan bermaksud menghalangi kelompok tersebut menyampaikan aspirasi kepada Gubernur. Ia menyebut kelompok tersebut telah diarahkan untuk menyampaikan aspirasi melalui pertemuan di kantor, bukan di area tribun ketika kegiatan kenegaraan baru selesai dan konsentrasi massa masih tinggi. Ia juga menyebut pihaknya mempertanyakan izin resmi terkait rencana penyampaian aspirasi tersebut.
“Bukan katong (kami) mau larang dong (mereka) mau ketemu. Beta sudah fasilitasi untuk ketemu di kantor, yang bersikeras ketemu di situ, lokasi tribun. Dia seng (tidak) mau ketemu di kantor,” ujarnya
RI mengakui ucapan “monyet” yang terdengar dalam video memang keluar dari dirinya. Namun, ia membantah keras jika ucapan tersebut dimaksudkan untuk menyebut masyarakat adat, masyarakat Seram Utara, atau kelompok tertentu secara keseluruhan. Ia menyebut ucapan tersebut muncul secara spontan dalam situasi pengamanan yang menurutnya berlangsung tegang.
“Beta (saya) mengaku dan minta maaf atas ucapan monyet itu. Beta lontarkan ke individu karena spontanitas, sebab kami sudah sampaikan ke yang bersangkutan tapi tidak diindahkan,” ujar RI
Ia kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki maksud untuk merendahkan harkat dan martabat masyarakat adat maupun komunitas tertentu. Klarifikasi tersebut disampaikan setelah potongan video beredar luas di media sosial dan memunculkan tafsir bahwa ucapan tersebut ditujukan kepada masyarakat Seram atau masyarakat adat. Rohim meminta publik melihat rangkaian kejadian secara utuh, bukan hanya bagian video yang telah beredar.
“Tidak ada sama sekali niat dan maksud beta secara pribadi untuk merendahkan harkat dan martabat manusia. Itu spontanitas berdasarkan kondisi tadi. Tolong jangan digoreng seolah beta merendahkan dia atau komunitas adat tertentu,” tegas RI
Persoalan ini kini menjadi perhatian karena menyangkut dua kepentingan sekaligus: kewajiban petugas menjaga keamanan kepala daerah dalam situasi kerumunan dan hak masyarakat menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Di satu sisi, pengamanan pejabat publik membutuhkan kewaspadaan terhadap setiap benda atau gerakan yang tidak dikenal. Di sisi lain, tindakan dan bahasa petugas tetap menjadi sorotan publik, terlebih ketika berlangsung dalam ruang terbuka dan direkam masyarakat.
Hingga berita ini ditulis pada Selasa, 18 Agustus 2026, keterangan yang tersedia kepada media ini berasal dari RI sebagai pihak yang memberikan klarifikasi atas video tersebut. Keterangan dari mahasiswa atau kelompok masyarakat yang berada dalam video belum diperoleh. Karena itu, konteks mengenai maksud kedatangan kelompok, status izin penyampaian aspirasi, serta kronologi dari sudut pandang mereka masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut demi menjaga keberimbangan pemberitaan.(MB-)

