Ambon Malukubarunews.com — Irwan angkat bicara menyikapi video berdurasi pendek yang menyoroti adu mulut antara seorang adik dari Seram Utara dan ajudan Gubernur Maluku dalam rangkaian pengamanan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia meminta publik melihat persoalan secara utuh dan tidak serta-merta memperbesar peristiwa yang menurutnya lebih berkaitan dengan teknis penanganan di lapangan.
Menurut Irwan, situasi pengamanan kegiatan kenegaraan memiliki tingkat kesibukan dan konsentrasi tinggi. Para ajudan, kata dia, tidak hanya mendampingi Gubernur, tetapi juga harus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai agenda hingga selesai. Karena itu, komunikasi yang berlangsung dalam kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan konteks lapangan.
“Sesungguhnya ini hal sepele yang sering dialami oleh para ajudan ketika sedang menjalankan tugas. Jadi, sebagai orang tua di Tanah Nusa Ina, beta berharap adik beta dapat memahami situasi dan kondisi. Menurut beta, momentumnya memang kurang tepat,” ungkapnya
Meski demikian, Irwan mengaku memahami maksud penyampaian aspirasi yang dilakukan sang adik. Terlebih, yang bersangkutan disebut masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa. Surat yang dibawa dalam sebuah bambu juga dipandang memiliki makna simbolik dalam konteks adat, sehingga menurut Irwan terdapat alasan yang dapat dipahami di balik cara penyampaian tersebut.
“Apalagi yang dibawa itu dalam sebuah bambu sebagai simbol adat. Mungkin dipahami bahwa surat tersebut akan segera ditanggapi oleh Gubernur atau pimpinan daerah lainnya. Dari sisi itu, beta dapat memahami,”akuimya
Namun, Irwan menyoroti munculnya kata “monyet” dalam percakapan yang kemudian berkembang menjadi persoalan di ruang publik. Ia menegaskan, berdasarkan apa yang didengarnya dari video, dirinya tidak mendengar kata tersebut diucapkan oleh ajudan Gubernur. Karena itu, ia meminta publik tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan percakapan yang belum tentu terdengar secara utuh.
“Kalau soal kata ‘monyet’, maaf, dari video itu beta tidak mendengar kata tersebut datang dari ajudan. Justru kemudian disambut dengan ucapan ‘beta bukan monyet’. Jadi dalam soal ini beta bukan membela ajudan, tetapi kalau memang ucapan itu terdengar pelan atau tidak jelas, sebaiknya jangan langsung dibesarkan karena justru bisa memancing publik untuk memberikan komentar yang lebih luas,” ujarnya
Irwan menilai, apabila memang terdapat ucapan yang dianggap tidak pantas, persoalan tersebut masih dapat diselesaikan melalui komunikasi secara baik-baik. Ia juga membuka kemungkinan adanya permintaan maaf apabila memang terdapat kekeliruan dalam komunikasi di lapangan. Namun, pada saat yang sama, ia meminta pihak yang menyampaikan aspirasi memahami situasi pengamanan dalam acara kenegaraan.
“Kalau benar ada ucapan yang keliru, mungkin ajudan juga akan menyampaikan permintaan maaf. Tetapi beta kira, adikku juga harus memahami situasi pengamanan dalam acara kenegaraan. Gubernur dalam kondisi seperti itu pasti sangat sibuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan hingga malam 18 Agustus,” tuturnya
Karena itu, Irwan meminta agar penyampaian aspirasi tidak dilakukan dengan memaksakan kehendak ketika pengamanan sedang berlangsung. Ia juga mempertanyakan keputusan membawa surat kepada Gubernur melalui momentum yang menurutnya kurang tepat, terlebih ketika ada pihak tua adat yang disebut mengarahkan sang adik melakukan hal tersebut.
“Adik beta tidak usah memaksakan kehendak. Yang menurut beta juga kurang tepat adalah ketika ada tua adat yang menyuruh adik membawa surat tersebut pada momentum yang kurang tepat,”pintanya
Terkait pandangan sebagian pihak bahwa ajudan seharusnya menerima surat yang dibawa dalam bambu tersebut, Irwan memiliki pertimbangan berbeda. Menurut dia, petugas pengamanan memiliki tanggung jawab untuk memastikan setiap barang yang berada di sekitar pejabat yang dikawal tidak menimbulkan risiko keamanan. Ia menilai kehati-hatian tersebut merupakan bagian dari tugas ajudan.
“Memang ada yang bilang kepada beta, sebaiknya ajudan ambil saja surat itu. Tetapi beta bilang, kayaknya ajudan sudah benar. Karena kalau di dalam bungkusan atau bambu itu terdapat barang terlarang, siapa yang akan kena getahnya? Tentunya ajudan yang sedang bertugas. Pengalaman seperti itu sudah banyak terjadi,”tegasnya
Sebagai orang tua di Tanah Nusa Ina, Irwan berharap kejadian tersebut tidak berkembang menjadi polemik baru. Ia menilai substansi persoalan lebih penting ditempatkan sebagai pembelajaran bersama mengenai bagaimana aspirasi masyarakat dapat disampaikan kepada pemerintah tanpa menimbulkan persoalan lain.
“Beta sebagai orang tua perlu mengingatkan bahwa kejadian ini harus menjadi hikmah. Jangan kita memperbesar sesuatu yang sebenarnya hanya soal cara dan teknis penyampaian,” harapnya
Ia menegaskan, masyarakat memiliki banyak saluran yang lebih elegan, santun, dan bertanggung jawab untuk menyampaikan pikiran maupun aspirasi kepada pemerintah. Salah satu pilihan, menurutnya, adalah membuat video penyampaian aspirasi atau mengantarkan surat secara langsung ke Kantor Gubernur agar tercatat sebagai surat masuk dan dapat diproses melalui mekanisme administrasi pemerintahan.
“Banyak cara yang elegan dan bertanggung jawab untuk menyampaikan pikiran dan pendapat. Misalnya membuat video penyampaian aspirasi atau membawa surat langsung ke Kantor Gubernur, kemudian dicatat sebagai surat masuk. Dengan begitu, aspirasi tetap tersampaikan tanpa harus menimbulkan persoalan baru,” tekas Iwan Tutup ( MB-)

