Ambon.Malukubarunews.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon terus memperkuat upaya mitigasi bencana melalui berbagai program sosialisasi dan edukasi kebencanaan yang menyasar masyarakat secara luas. Program tersebut tidak hanya ditujukan kepada warga umum, tetapi juga menjangkau pelajar, lembaga pendidikan, tempat ibadah, hingga yayasan keagamaan sebagai bagian dari strategi membangun budaya sadar bencana sejak dini.
Kepala BPBD Kota Ambon, Frits R.M. Tatipikalawan, mengatakan kegiatan edukasi kebencanaan yang dilakukan selama ini mendapat respons positif dari berbagai kalangan masyarakat. Menurutnya, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu langkah penting dalam mengurangi risiko bencana di wilayah Kota Ambon yang memiliki kerentanan terhadap banjir dan tanah longsor.
“Kami lebih banyak melakukan sosialisasi kepada anak-anak sekolah, tempat-tempat ibadah, yayasan Muslim hingga sekolah pesantren. Bahkan Plt. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Ambon, Novita Berhitu, juga turut terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi tersebut,” kata Frits R.M. Tatipikalawan kepada wartawan di Balai Kota Ambon, Selasa, 9 Juni 2026
Ia menjelaskan, hampir seluruh sekolah dasar di Kota Ambon telah menjadi sasaran program edukasi kebencanaan yang dilaksanakan BPBD. Langkah tersebut dilakukan untuk menanamkan pemahaman mengenai risiko bencana dan langkah penyelamatan diri kepada generasi muda sejak usia dini.
Menurut Tatipikalawan, dari sisi pengetahuan masyarakat sebenarnya telah memiliki pemahaman yang cukup baik terkait ancaman bencana maupun tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat. Namun demikian, tantangan terbesar yang masih dihadapi pemerintah adalah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat agar lebih peduli terhadap upaya mitigasi.
“Penguatan kapasitas masyarakat dari sisi pengetahuan sudah cukup baik. Yang dibutuhkan sekarang adalah kerja keras untuk mengubah paradigma berpikir dan sikap masyarakat terhadap risiko bencana,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberhasilan program mitigasi dan penanggulangan bencana tidak hanya ditentukan oleh pemerintah melalui penyediaan program dan kebijakan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menerapkan perilaku yang mendukung pengurangan risiko bencana.
“Sebagus apa pun program yang dibuat pemerintah, jika tidak didukung perubahan perilaku masyarakat, maka hasilnya tidak akan maksimal,” tegas Tatipikalawan.
Sebagai daerah yang memiliki sejumlah kawasan rawan banjir dan longsor, Kota Ambon membutuhkan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana. Oleh sebab itu, BPBD terus memperluas jangkauan sosialisasi hingga ke wilayah-wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Ke depan, BPBD Kota Ambon berencana memperluas program edukasi kebencanaan ke kawasan Ambon Timur hingga wilayah Leitisel. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat di daerah rawan bencana memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam.
Selain kegiatan sosialisasi, BPBD Kota Ambon juga terus memperkuat sistem kesiapsiagaan melalui penyusunan berbagai dokumen strategis yang menjadi pedoman penanganan bencana saat kondisi darurat terjadi.
“Kami juga menyiapkan berbagai dokumen pendukung, termasuk dokumen kesiapsiagaan dan rencana respons untuk menghadapi bencana, khususnya banjir dan tanah longsor,” jelasnya.
Tatipikalawan berharap upaya edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mitigasi bencana. Dengan meningkatnya kesiapsiagaan masyarakat dan dukungan seluruh pemangku kepentingan, risiko serta dampak bencana di Kota Ambon diharapkan dapat diminimalkan sehingga keselamatan warga dapat lebih terjamin ketika terjadi situasi darurat.(MB-01)

