Huamual- Malukubarunews.com — Masyarakat Dusun Tanah Goyang, Desa Lokki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menilai perubahan kepemimpinan di tingkat dusun membawa dampak besar terhadap stabilitas sosial dan rasa aman warga. Pergantian kepala dusun dinilai menjadi titik balik setelah wilayah tersebut sempat dilanda stagnasi pembangunan dan gangguan keamanan.
Sejumlah warga menuturkan, pada masa kepemimpinan sebelumnya oleh Munir Bufakar, Dusun Tanah Goyang mengalami peningkatan kenakalan remaja, aksi premanisme, hingga gangguan keamanan yang serius. Kondisi tersebut bahkan membuat aparat kepolisian mengategorikan dusun itu sebagai zona merah.
Situasi keamanan yang memburuk turut berdampak pada hubungan sosial antarwarga, termasuk relasi dengan dusun-dusun tetangga. Beberapa insiden pertikaian disebut berujung pada kerugian materiil hingga korban jiwa, sebagaimana diungkapkan oleh sejumlah sumber masyarakat setempat.
“Kami mengalami masa yang sulit. Banyak kejadian kriminal, hubungan sosial rusak, bahkan ada korban jiwa. Dusun ini sempat tidak aman untuk anak-anak dan perempuan,” ungkap seorang warga Tanah Goyang
Warga juga menyampaikan kekhawatiran atas meningkatnya dugaan kasus kekerasan seksual, termasuk terhadap anak di bawah umur. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mengusulkan pergantian kepala dusun kepada Pemerintah Desa Lokki sebagai langkah penyelamatan sosial dan keamanan.
Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penunjukan Yasmin Bally sebagai Kepala Dusun Tanah Goyang. Sejak kepemimpinan baru tersebut, warga menilai situasi keamanan dan ketertiban masyarakat berangsur membaik secara signifikan.
“Sejak dipimpin Pak Yasmin Bally, kami merasa jauh lebih aman dan nyaman. Kepala dusun sekarang tegas dan cepat bertindak kalau ada masalah,”tegas salah satu tokoh masyarakat Tanah Goyang.
Menurut warga, aparat dusun bersama masyarakat kini lebih responsif dalam menangani setiap persoalan kriminal. Langkah cepat dan koordinasi yang baik disebut berhasil menurunkan tingkat kenakalan remaja serta mengembalikan rasa aman, hingga Dusun Tanah Goyang diklaim keluar dari status zona merah kepolisian.
Namun demikian, dinamika baru kembali muncul menyusul rencana pendirian gerai Alfamidi di wilayah tersebut. Penolakan terhadap rencana itu berkembang menjadi perdebatan terbuka di tengah masyarakat dan terekam dalam sejumlah video yang beredar luas di media sosial.
Warga menduga polemik penolakan Alfamidi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memicu keresahan dan mengangkat kembali isu pergantian kepala dusun. Dalam rekaman yang beredar, terdengar seruan yang mempertanyakan kepemimpinan dusun saat ini.
Menurut sumber warga, seruan tersebut diduga berasal dari pihak keluarga Munir Bufakar. Warga menilai aksi tersebut tidak murni berkaitan dengan penolakan gerai ritel, melainkan sarat kepentingan pribadi dan konflik lama terkait pergantian kepemimpinan dusun.
“Kami khawatir ini ada upaya menghasut masyarakat dan menekan pemerintah desa. Padahal persoalannya bukan soal Alfamidi saja, tapi ada kepentingan lama yang ingin dihidupkan kembali,” ujar seorang warga lainnya.
Masyarakat Dusun Tanah Goyang berharap pemerintah daerah dan aparat terkait dapat melihat persoalan ini secara objektif dan tidak terjebak pada provokasi. Warga menegaskan keinginan mereka untuk mempertahankan kepemimpinan yang dinilai tegas dan berani demi menjaga stabilitas keamanan dan kehidupan sosial yang lebih baik.
“Kami ingin dusun ini tetap aman. Jangan lagi kembali ke masa lalu. Kepemimpinan yang sekarang harus dipertahankan demi ketenangan masyarakat,” tegas warga.
Masyarakat berharap pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten dapat mengambil sikap bijak agar konflik sosial tidak kembali mencuat dan Dusun Tanah Goyang tetap berada dalam kondisi aman, kondusif, dan berkelanjutan.(MB)

