Ambon.Malukubarunews.com – Ribuan warga Kota Ambon memadati Tribun Lapangan Merdeka, Minggu (21/6) dini hari, untuk mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 antara Tim Nasional Belanda melawan Swedia yang diselenggarakan Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Pemuda dan Olahraga. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola dunia, tetapi juga memperlihatkan kuatnya ikatan historis dan emosional masyarakat Maluku terhadap Negeri Kincir Angin.
Sejak beberapa jam sebelum pertandingan dimulai, kawasan Lapangan Merdeka telah dipenuhi warga dari berbagai penjuru Kota Ambon. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak mengenakan jersey oranye, mengibarkan bendera Belanda, dan membawa atribut khas De Oranje yang mendominasi suasana malam itu.
Kegiatan nobar tersebut turut dihadiri Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, Wakil Wali Kota Ambon Ely Toisutta, Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Sadali Ie, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur Watubun, serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Kehadiran para tamu kehormatan semakin menyemarakkan suasana yang dipenuhi lautan warna oranye.
Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya merupakan pendukung Timnas Inggris. Namun, demi menghormati tamu kehormatan dan masyarakat Ambon yang mayoritas mendukung Belanda, ia memilih mengenakan jersey Timnas Belanda.
“Saya sebenarnya fans Inggris. Tetapi malam ini, untuk menghargai Bapak Duta Besar Belanda dan seluruh pendukung Belanda di Kota Ambon, saya ikut menggunakan baju Belanda,” ungkapnya
Bodewin juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran Duta Besar Belanda yang dinilai menunjukkan perhatian dan kedekatan dengan masyarakat Maluku.
Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat hubungan kerja sama antara Belanda dan Kota Ambon di berbagai sektor pembangunan.
“Pak Dubes, selamat datang di Kota Ambon. Kami bangga karena seorang duta besar hadir langsung bersama masyarakat untuk menikmati pertandingan ini,” ujar Bodewin Wattimena.
Ia menegaskan bahwa komunitas pendukung Timnas Belanda di Ambon merupakan salah satu yang terbesar di Maluku. Karena itu, ia berharap hubungan yang terjalin melalui kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana ke depan ada kerja sama yang baik antara Belanda dan Maluku, khususnya Kota Ambon,” tegas Bodewin Wattimena.
Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen mengaku terkesan dengan besarnya antusiasme masyarakat Ambon terhadap Timnas Belanda. Ia menilai dukungan yang ditunjukkan warga mencerminkan hubungan historis yang telah lama terjalin antara Maluku dan Belanda.
“Saya sangat senang melihat begitu banyak orang hadir malam ini. Saya juga senang berada di Ambon karena hubungan antara Maluku dan Belanda sangat kuat,” akuinya
Selain menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Ambon dan masyarakat yang telah menyambutnya dengan hangat, Marc juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung.
“Buanglah sampah pada tempat yang telah disediakan dan pulanglah dengan tertib setelah pertandingan selesai. Maju Belanda,” ucap Marc Gerritsen.
Antusiasme warga akhirnya terbayar ketika Timnas Belanda tampil dominan dan mengalahkan Swedia dengan skor telak 5-1 pada laga matchday kedua Grup F Piala Dunia 2026. Brian Brobbey mencetak dua gol pada babak pertama, disusul dua gol Cody Gakpo di babak kedua, sementara Crysencio Summerville melengkapi pesta gol De Oranje. Hasil tersebut mengantarkan Belanda ke puncak klasemen sementara Grup F sekaligus memicu euforia ribuan pendukungnya di Ambon.
Usai pertandingan berakhir, sorak-sorai kemenangan menggema di seluruh kawasan Lapangan Merdeka. Wali Kota Ambon bersama Duta Besar Belanda memimpin pawai kemenangan yang diikuti ratusan warga dengan berjalan kaki maupun menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat. Perayaan berlangsung meriah namun tetap tertib, mencerminkan kedewasaan para suporter sekaligus memperlihatkan kuatnya ikatan sejarah, budaya, dan emosional yang masih terjalin antara masyarakat Maluku dan Belanda hingga saat ini.(MB-01)

