Ambon.malukubarunews.com – Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon secara resmi mengukuhkan Prof. Dr. Wilma Akihary, S.Pd., M.Hum. sebagai Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Pendidikan Bahasa–Linguistik. Pengukuhan tersebut berlangsung dalam Rapat Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Pattimura di Aula Gedung Rektorat Unpatti, Ambon, Selasa (11/2/2026).
Prosesi akademik yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh pimpinan universitas, senat akademik, pejabat daerah, sivitas akademika, tokoh agama, serta keluarga dan kolega dari profesor yang dikukuhkan. Momentum tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik Universitas Pattimura dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam pidato pengukuhannya yang berjudul “Linguistik, Multikulturalisme, dan Inovasi Pedagogik dalam Pembelajaran Bahasa Jerman: Membangun Kompetensi Kognitif, Berpikir Kritis, dan Kreatif”, Prof. Wilma
menekankan pentingnya pembelajaran bahasa yang adaptif terhadap tantangan era Pendidikan 4.0 serta dinamika masyarakat global yang multikultural.
Menurutnya, pembelajaran bahasa Jerman tidak cukup hanya berorientasi pada penguasaan struktur bahasa semata, tetapi perlu mengintegrasikan kajian linguistik, kesadaran budaya, serta inovasi pedagogik berbasis teknologi digital.
“Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga penanda identitas dan wahana pewarisan nilai budaya. Pembelajaran bahasa asing justru harus memperkuat kesadaran akan bahasa ibu dan kearifan lokal,” ungkap Guru Besar Pendidikan Bahasa–Linguistik Universitas Pattimura, Wilma Akihary.
Ia menjelaskan bahwa kajian linguistik, baik pada tingkat mikro maupun makro, memiliki peran strategis dalam membangun kompetensi komunikatif mahasiswa. Pendekatan tersebut juga dinilai mampu mendorong kemampuan berpikir kritis dan reflektif dalam proses pembelajaran.
Salah satu pendekatan yang diangkat adalah linguistik kontrastif antara bahasa Indonesia dan bahasa Jerman. Menurutnya, pendekatan ini efektif dalam meningkatkan kesadaran bahasa (language awareness) mahasiswa serta memperkuat pemahaman terhadap sistem bahasa yang berbeda.
Selain itu, Prof. Wilma menyoroti pentingnya penerapan pendidikan multikultural dalam pembelajaran bahasa. Ia menilai kelas bahasa dapat menjadi ruang strategis untuk menumbuhkan sikap saling menghargai, empati, dan kebersamaan di tengah keberagaman budaya.
“Pendidikan multikultural terbukti mampu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa, partisipasi aktif, serta membangun rasa kebersamaan yang kuat,” jelas Wilma Akihary.
Dalam bidang inovasi pedagogik, ia juga memaparkan sejumlah model pembelajaran berbasis teknologi digital yang telah dikembangkan dalam proses pembelajaran bahasa. Beberapa di antaranya meliputi Quantum Learning berbantuan media digital, model ISLANDS, Discovery Learning berbantuan YouTube, serta model kolaboratif Schneeball–Wirbelgruppe.
Model-model pembelajaran tersebut, menurutnya, terbukti mampu meningkatkan hasil belajar kognitif, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta motivasi belajar mahasiswa maupun siswa di berbagai jenjang pendidikan.
Sementara itu, Rektor Universitas Pattimura dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas pencapaian akademik Prof. Wilma Akihary. Ia berharap keilmuan yang dimiliki dapat terus memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan bahasa dan kebudayaan, khususnya di kawasan kepulauan Maluku.
“Pengukuhan ini menjadi kebanggaan bagi Universitas Pattimura dan diharapkan dapat memperkuat pengembangan pendidikan bahasa yang inovatif serta relevan dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Rektor
Universitas Pattimura, Fredy Leiwakabessy.
Pengukuhan Prof. Wilma Akihary sebagai guru besar menambah deretan profesor di Universitas Pattimura sekaligus menjadi momentum penting dalam memperkuat riset, inovasi pembelajaran, serta pengembangan pendidikan berbasis multikultural dan kearifan lokal di Maluku.(MB)

