Ambon .Malukubarunews.com – Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Pattimura, Dr. Aida Kubangun, S.Pd., menegaskan pentingnya sosialisasi beasiswa secara menyeluruh bagi mahasiswa, khususnya di lingkungan FKIP. Hal itu disampaikannya dalam wawancara di Ambon, Rabu (4/2/2026), terkait kegiatan sosialisasi beasiswa yang digagas Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Sejarah.
Menurut Aida, kegiatan tersebut awalnya hanya dirancang untuk mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah. Namun, atas pertimbangannya, kegiatan diperluas ke tingkat fakultas agar menjangkau seluruh program studi di FKIP yang berjumlah 18 prodi.
“Awalnya kegiatan ini hanya untuk Program Studi Pendidikan Sejarah, tetapi saya sarankan agar dibuat dalam skala fakultas karena kita memiliki 18 program studi. Jadi perwakilan dari semua prodi bisa mendapat informasi yang sama,” ungkap Aida dalam wawancara wartawan
Ia menjelaskan, sosialisasi ini muncul karena banyak mahasiswa yang tidak memperoleh beasiswa akibat minimnya informasi terkait jenis, syarat, dan mekanisme pendaftaran. Padahal, Unpatti memiliki berbagai skema beasiswa dari pemerintah maupun mitra kerja sama.
“Banyak mahasiswa kita sebenarnya berpotensi secara akademik, tetapi kurang informasi tentang beasiswa yang tersedia. Karena itu, perlu penjelasan tentang syarat, mekanisme, dan siapa saja yang berhak menerima,” ujarnya.
Aida merinci, dari pemerintah terdapat empat skema utama, yakni KIP Kuliah, Beasiswa Indonesia Pintar, Beasiswa Unggulan dari Kemendikbudristek, Beasiswa Afirmasi Daerah 3T, serta program dari LPDP. Selain itu, terdapat beasiswa mitra seperti Karya Salemba Empat, Pertamina Foundation, Yayasan Baitul Maal PLN, BAZNAS, hingga dukungan dari Bank Indonesia.
Ia mengungkapkan, khusus angkatan 2025, jumlah pelamar KIP Kuliah mencapai 3.750 orang. Namun, tidak semua memahami mekanisme pendaftaran berbasis Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan proses verifikasi kampus.
“Sekarang penetapan KIP Kuliah langsung dari kementerian berdasarkan data sosial ekonomi nasional. Universitas hanya melakukan verifikasi. Karena itu mahasiswa harus benar-benar memahami prosedurnya,” jelas Aida.
Sementara itu, Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unpatti, Rina Pusparani, S.S., M.Hut., mengatakan kegiatan ini merupakan respons atas keresahan mahasiswa yang melihat banyak rekannya belum mendapatkan bantuan pendidikan.
“Mahasiswa kami melihat teman-teman mereka tidak mendapatkan beasiswa karena kurang informasi. Dari situ mereka menggagas sosialisasi ini agar semua tahu peluang yang ada,” ungkap Rina.

Ia menambahkan, angkatan 2025 Program Studi Sejarah mengalami lonjakan signifikan dengan jumlah mahasiswa mencapai 169 orang, jauh di atas rata-rata sebelumnya sekitar 100 orang. Namun, penerima KIP Kuliah hanya sekitar 40 persen.
“Ada mahasiswa semester dua yang terpaksa tidak melanjutkan karena kendala ekonomi. Itu yang menjadi perhatian kami. Sosialisasi ini diharapkan membuka akses beasiswa lain bagi yang belum mendapatkan KIP,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, panitia juga menghadirkan mahasiswa penerima beasiswa dari berbagai skema untuk berbagi pengalaman dan strategi lolos seleksi. Langkah ini diharapkan mampu memberikan gambaran nyata sekaligus motivasi bagi mahasiswa lain agar lebih proaktif mengakses bantuan pendidikan.
Melalui Sosialisasi Beasiswa Unpatti ini, pihak universitas berharap tidak ada lagi mahasiswa berprestasi yang terhambat melanjutkan studi karena persoalan ekonomi. Transparansi informasi dan literasi administrasi menjadi kunci agar akses pendidikan tinggi tetap terbuka bagi seluruh mahasiswa yang memenuhi syarat.(MB-*)

