Ambon,malukubarunews.com — Walikota Ambon, Bodewin Wattimena, menghadiri Festival Imlek 2026 yang digelar di Pattimura Park, Sabtu (14/2/2026).
Dalam sambutannya saat menghadiri kegiatan dimaksud ,Walikota menegaskan bahwa perayaan Imlek bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Ambon membangun kebersamaan dalam keberagaman.
Di hadapan Wakil Walikota Ambon,Sekretaris Kota Ambon, Ketua Dharma Wanita Persatuan, pimpinan OPD,.Ketua DPRD Kota Ambon, pengurus Yayasan Simpati Ambon, serta masyarakat yang hadir, Bodewin menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengingat kembali momentum tahun 2024 ketika Pemerintah Kota Ambon secara resmi meluncurkan dan menetapkan Imlek sebagai salah satu kalender pariwisata kota.
Menurutnya, konsistensi penyelenggaraan festival ini menjadi bukti nyata bahwa slogan “Beta Par Ambon, Ambon Par Samua” bukan sekadar narasi, melainkan diwujudkan dalam tindakan konkret pemerintah bagi seluruh warga kota tanpa membedakan latar belakang.
“Beta Par Ambon, Ambon Par Samua itu nyata. Bukan sekadar kata-kata, bukan sekadar slogan. Hari ini menjadi tindakan nyata pemerintah kota bagi seluruh warga kota ini,” jelas Wattimena.

Ia mengungkapkan telah meminta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Ambon untuk menjadwalkan sedikitnya empat event tahunan, yakni Festival Jalan Salib, Festival Ramadhan, Festival Imlek, dan Festival Santa Claus. Keempat event tersebut dirancang sebagai atraksi buatan untuk memperkuat daya tarik pariwisata kota, melengkapi potensi wisata alam yang telah dimiliki Ambon.
Bodewin menilai, pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Atraksi budaya dan perayaan lintas agama akan memberikan nilai tambah dan alasan kuat bagi wisatawan untuk datang ke Ambon.
“Kalau katong ( Kita ) hanya menjual wisata alam, seng ( tidak ) laku. Orang bisa lihat pantai di tempat lain. Tapi kalau ada atraksi budaya dan perayaan lintas agama, itu memberi nilai tambah bagi pariwisata kota Ambon,” tegas Bodewin
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya penggunaan istilah yang tepat dalam menyebut komunitas Tionghoa di Ambon. Ia meminta agar masyarakat menyebutnya sebagai warga Kota Ambon keturunan Tionghoa, bukan sebaliknya, sebagai bentuk penegasan identitas bahwa mereka adalah bagian utuh dari kota ini.
“Mulai hari ini, sebut warga Kota Ambon keturunan Tionghoa. Kita letakkan Ambon paling depan. Supaya rasa memiliki terhadap kota ini semakin kuat,” pinta Wattimena.
Dalam konteks perayaan Imlek 2577 Kongzili tahun 2026, Walikota juga mengapresiasi aksi berbagi kasih yang dilakukan panitia. Ia mendorong agar perayaan keagamaan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi lebih banyak diwujudkan dalam aksi sosial bagi masyarakat kurang mampu.
Ia mencontohkan kegiatan Natal Nasional sebelumnya yang mengalokasikan sebagian besar anggaran untuk bantuan sosial, termasuk penyerahan ambulans dan ribuan paket sembako. Pola tersebut, menurutnya, layak diterapkan dalam berbagai perayaan lintas agama di Ambon.
Di akhir sambutannya, Bodewin mengajak seluruh warga, termasuk warga keturunan Tionghoa, untuk terus mendukung program pemerintah kota, termasuk penanganan persoalan sampah melalui penyediaan fasilitas yang lebih higienis dan sistem pengangkutan yang menjangkau lorong-lorong permukiman.
“Atas nama Pemerintah Kota Ambon, kami mengucapkan selamat merayakan Imlek 2577 Kongzili tahun 2026 kepada seluruh warga Kota Ambon keturunan Tionghoa. Mari kita jaga Ambon dalam semangat persaudaraan,” ajak Wattimena.
Festival Imlek 2026 di Pattimura Park menjadi simbol penguatan persatuan masyarakat majemuk Ambon sekaligus strategi konkret menjadikan kota ini sebagai destinasi pariwisata berbasis budaya dan toleransi.

Usai kegiatan ,Walikota Ambon. didampingi Wakil Walikota Ambon,Ketua DPRD Kota Ambon ,OPD dilingkup Pemkot Ambon mengunjungi tenda- tenda UMKM (MB-01)

